Istilah Cebong dan Kampret Ala Indonesia
Penulis : Endang Kurniawan | Senin, 8 Oktober 2018 - 14:14:38 WIB
cebong; kampret; pilpres 2019; pilkada; election;Kecebong VS Kampret

Jakarta - Musim Pilkada DKI menjadi model pilkada rasa pilpres, kenapa gitu..? Banyak anak bangsa merasakan perbedaan dimusim pilkada tersebut. Pengkotak-kotakan basis massa semakin terasa dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Di warung kopi, cafe, sampe sudut-sudut kampung terdengar senyap-senyap perbincangan situasi terkini pilihan politik masing-masing. Dari mulai perdebatan ringan sampai ke diskusi yang meruncing sampai kepada obrolan tingkat tinggi dalam "bersuara"...he..he..hee...

Kini, perdebatan itu meningkat keranah pilpres 2019. Kesenjangan terjadi dengan perbedaan pandangan politik yang ada. Dari teman menjadi lawan, dari saudara menjadi sara, fenomena ini sudah terjadi dengan istilah "kecebong" dan "kampret". Idiom yang sangat bermakna tajam dalam pilihan politik masing-masing individu. Untuk pendukung petahana digolongkan masyarakat "kecebong" sementara yang kontra disebut "kampret".

Kok bisa...? mari kita lihat hal ihwal, asal muasal kenapa idiom ini bisa tercipta dikalangan masyarakat Kodok Peliharaan Jokowi di Istanasebagai pilihan politik yang diambil. Berawal dari hobi sang petahana memelihara kodok di lingkungan istana, sebagaimana harian surat khabar nasional menjelaskan, bahwa hobi ini menjadi alasan kenapa petahana diidentikan dengan kodok. Hobi yang nyeleneh, dan tidak biasa, sehingga menjadi bahan lucu-lucuan bagi yang kontra kepada petahana.

Mengutip dari berbagai sumber media online, dan media cetak, belakangan ditulis oleh Derek Manangka, bahwa katak di istana piaraan Presiden itu banyak yang dimakan ular berbisa. Kok? Derek tak menjelaskan mengapa di Istana banyak ular berbisa. Tapi muncul memenya berupa ucapan "ikut belasungkawa atas matinya kodok-kodok di istana".  Menurut saya, semua bahasa tentang kodok di istana telah berubah menjadi "bahasa gajah" (bahasa idiom politik) yang memberi pengertian umum.
Kodok Peliharaan Jokowi di Istana
Menurut saya, semua bahasa tentang kodok di istana telah berubah menjadi "bahasa gajah" (bahasa idiom politik) yang memberi pengertian umum.

Hewan kecebong adalah cerminan dari perilaku masyarakat pendukung Presiden Jokowi. Yaitu: kecebong! Jadi ada tenornya. Yakni antara telur katak hingga menjadi katak dewasa. Masa yang singkat. Masa inkubasi telur.

Telur-telur ini kemudian menetas menjadi kecebong. Matanya buta, bergerumbul untuk (i) cari perlindungan, (ii) butuh makan, (iii) butuh logistik, sebelum jadi katak dewasa (iv) butuh power/ kekuasaan. Empat perilaku itu melekat pada Kecebong yang lalu diperolehnya dari pemiaranya.

Karena itu kecebong tak boleh berpikir. Ini menimbulkan idiom baru, kecebong IQ nya rendah. Meminjam istilah Rocky Gerung, IQ nya 200 untuk sekolam kecebong. Itupun harus didorong dengan meth (sabu-sabu) supaya adrenalin otak bekerja, agar bisa mikir. Maka muncul idiom Bong 200 Sekolam. Agaknya karena pemilih Presiden Jokowi berpendidikan rendah dalam bahasa polling. Tapi saya belum menemukan bagaimana terbentuknya idiom "Kampret" yang digunakan Kecebong. Kampret bahasa yangKodok Pret digunakan masyarakat Medan Sumatera Utara, adalah makian yang tidak bermakna makian. Misalnya, "Kampret kau wak".

Menarik memperhatikan proses lahirnya sosiologi populer ini. Jelas mengandung demarkasi, memuat stigmatik, mass critical, terpenting adalah proses pembentuk perilaku kebudayaan baru dalam merespon neo demokrasi Pancasila.

Penulis mengajak kepada semua pembaca untuk bersikap bijak dan santun dalam berkomentar dan berperilaku terhadap berbedaan politik yang dipilihnya. Be Wise and Be Smart! Salam 2 Jari.... (-EK-)



All is about imagination - Endang Kurniawan
Sumber : https://endangkurniawan.com/article-istilah-cebong-dan-kampret-ala-indonesia.html