Artikel

Home  »  News  »  Tools Penyadap Ala Snowden
Rating: 1.5/10 (2 votes cast)

Tools Penyadap Ala Snowden

Kamis, 2 Februari 2017 - 23:25:39 WIB | Teknologi Informasi | komentar : (0) | dibaca : 612
Tools Penyadap Ala Snowden

Beberapa waktu lalu, dunia digegerkan dengan berita-berita yang diterbitkan oleh wikileaks. Berita yang terdapat dalam halaman webnya menginformasikan dokumen-dokumen yang orang awam tidak dapat mengaksesnya untuk diketahui alias High Classified and Restricted Area.

Salah satu lembaga yang menjadi target adalah NSA (National Security Agency) atau Dinas Intelijen Amerika atas perbuatan Edward Snowden, hampir seluruh dunia dibuat "gaduh" atas aksi penyadapan yang dilakukannya. Para pejabat Indonesia pun kena serang aksi "penyadapan" Snowden. Diantara pejabat itu adalah Presiden RI ke-6 (Susilo Bambang Yudoyono) tidak lepas dari aksi yang dilakukan Snowden, pria kelahiran California 21 juni 1983.

Dinas intelijen AS tersebut dikenal ahli menyadap. Lantas, bagaimana Snowden memperoleh informasi tanpa terlacak?

Laporan tersebut diterbitkan oleh New York Times dan hal itu cukup mengejutkan, karena sebuah Badan Intelijen Tingkat Tinggi seperti NSA yang tugasnya adalah untuk melindungi kerahasiaan dokumen Negara dari serangan cyber, justru gagal mengantisipasi keamanan data tersebut hanya dengan menggunakan software murah untuk meraih itu semua.

Menurut Lukas Harding, seorang koresponden The Guardian yang pernah menulis buku “The Snowden Files” mengatakan, “Dia sangat beruntung sekali, karena dahulu ia duduk di bagian yang strategis untuk pengambilan data, kemudian setelah itu ia bekerja di Booz Allen dan bisa mendapat akses khusus ke dokumen rahasia.”

Dalam sebuah pernyataannya, Snowden mengatakan, “Saya melakukannya untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang tindakan pemerintah yang terlalu berlebihan dalam hal mengetahui data-data rahasia milik negara di dunia.”

Menurut pejabat intelijen yang telah menyelidiki kasus Snowden, ia menyadari bahwa dokumen rahasia milik NSA itu telah dicuri melalui jalan ‘web crawler‘, yaitu sebuah ‘tool‘ yang tersedia secara bebas di internet, yang digunakan untuk mencari indeks data dan backup website, selain itu ia juga menyadari bahwa bocornya data disebabkan oleh beberapa rekan kerja snowden sewaktu di NSA. “Kami tidak percaya ini hanya disebabkan oleh mesin otomatis (crawler) yang dijalankan untuk men-download jutaan data secara urut, namun lebih daripada itu ada beberapa pihak dalam yang sengaja membocorkannya.” tambahnya.

Mantan kontraktor NSA itu rupanya menggunakan sistem operasi Linux versi khusus bernama Tails. OS ini merupakan perangkat lunak open source bikinan developer anonim yang dioptimalkan untuk menyamarkan identitas penggunanya di dunia online.
Di dalamnya, sebagaimana diterangkan oleh Wired, terdapat sejumlah alat terkait enkripsi dan privasi, termasuk Tor, sebuah aplikasi yang mengacak lalu lintas internet pengguna dengan melakukan routing melalui jaringan komputer sukarelawan di seluruh dunia.

Tails bisa dimuat sepenuhnya dalam media eksternal seperti DVD dan USB yang dapat digunakan untuk melakukan booting komputer. Tails tidak menyimpan data secara lokal, dan kebal terhadap program mata-mata. Komputer yang dipakai pun tak meninggalkan jejak apabila pada kemudian hari diperiksa.

Melalui sistem operasi anti-sadap itulah, Snowden berkomunikasi dengan media dan membocorkan dokumen-dokumen rahasia NSA yang berada di tangannya.

Software Tor merupakan bagian dari Tails, yang pada awalnya dikembangkan oleh Laboratorium Riset Angkatan Laut AS. Program ini ramai digunakan oleh orang-orang yang oleh sebab tertentu tak ingin identitasnya di internet diketahui, mulai dari aktivis, pembocor seperti Snowden, hingga bandar narkoba online di pasar gelap macam Silk Road.

TOR BROWSER

Tails membuat pemakaian Tor jadi lebih mudah. Pengguna cukup melakukan booting ke sistem Tails, dan Tor akan otomatis berjalan tanpa perlu pengaturan apa pun. Selesai menggunakan, komputer bisa di-restart ke sistem operasi sehari-hari. Tak akan ada yang tahu apa yang dilakukan pengguna selama memakai Tails.

Para pengembang Tails sendiri lebih suka bersembunyi di balik bayang-bayang kerahasiaan dan memilih untuk tetap anonim. Salah satu alasan mereka membuat Tails adalah melindungi privasi pengguna internet dari endusan sejumlah pihak yang dilakukan diam-diam.

Di internet, semua aktifitas kita terlacak dan meninggalkan jejak (baca : Google Mesin Penyadap Yang Luar Biasa). Google adalah salah satu perusahaan dari sekian banyak yang melakukan tracking terhadap usernya, dengan dalih untuk meningkatkan ” user experiences”. 

Dengan menjadi anonym maka identitas kita di Internet akan dibuat menjadi samar, bukan hilang sama sekali. Kita bisa saja terdeteksi sedang berada di New York padahal aslinya lagi tiduran di kamar sambil surfing dengan koneksi wifi unlimited.

Dari permasalahn yang ada, sebagai pengguna internet aktif, disarankan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bijak dan tidak merusak privacy orang lain. Mau lihat tools nya, cek disini versi mobile disini.

Semoga Bermanfaat.

Sumber : Newyork Times; Tor Project: Anonymity Online;