Artikel

Home  »  News  »  Mengapa Islam Nusantara....?
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)

Mengapa Islam Nusantara....?

Senin, 30 Juli 2018 - 19:01:22 WIB | Serba Serbi | komentar : (0) | dibaca : 109
Mengapa Islam Nusantara....?

Jakarta - Tahun politik menjadi ajang pertaruhan semua golongan. Setiap golongan memainkan perannya masing-masing, selama kepentingannya terakomodir maka akan diperjuangkan dan selalu terjaga kepentingannya tersebut dari pihak-pihak yang mencoba merusak ataupun menggangu kepentingannya tersebut. Hampir 2 tahun ini, gesekan antar umat beragama menjadi pemberitaan yang menjadi fokus para pengamat. Berawal dari aliran-aliran yang merasa paling benar satu sama lain saling menjatuhkan, menghinakan, bahkan mungkin mentiadakan dari bumi nusantara Indonesia. Naif, padahal yang mereka pertentangan merupakan ajaran yang dibawa sejak mereka (baca:tokoh-tokoh) itu belum dilahirkan dimuka bumi. Ajaran yang dulunya damai, tanpa banyak pertentangan yang berarti. Kehidupan masyarakat beragama normal, toleransi dijunjung tinggi, saling menghargai, dan bantu membantu sudah ada dalam kehidupan masyarakat sebelumnya. Masing-masing agama menyiarkan ajarannya sesuai dengan kitab dan keyakinannya tanpa ada rasa curiga, ataupun berburuk sangka satu sama lain. Tapi, menjelang tahun politik, yang penulis rasakan sejak tahun 2016 (cyberarmy ASA) sampai sekarang gesekan itu mulai terasa. Isu-isu rasis mulai ramai di sosial media. dan anehnya isu itu dilontarkan oleh sesama pemeluk agama yang sama....ironis. Berbagai cara dilakukan atas nama agama, dari mulai pembubaran kajian kitab salah satu agama oleh salah satu ormas, penghadangan atau persekusi terhadap para sesepuh agama, belum lagi penolakan yang faktanya dulu tidak pernah terjadi. Selalu damai, aman, tertib, tanpa mengurangi makna dari ajaran yang telah diajarkan oleh penerima wahyu dan para sahabat sebelumnya. Penulis melihat, bahwa rekasi yang berlebihan ini membuat "mereka" yang tidak seiman menertawakan, dan mereka tidak sadar kalau sedang di adu domba.

Penulis hanya menjadi pengamat yang bijak, tanpa harus mengikuti paham mana yang paling benar. Karena penulis yakin, setiap ajaran keyakinan apapun selalu menempatkan antara kebaikan dan keburukan sesuai dengan porsinya masing-masing sesuai dengan keyakinan yang diyakininya tersebut. Berbagai kepentingan telah merusak dasar-dasar persaudaraan dan keimanan kaumnya, sampai harus berjuang mati-matian hanya untuk kepentingan dan kekuasaan. Bentuk nyata dari perselisihan adanya konsep baru antara Islam VS Islam Nusantara. Padahal keduanya mengangkat nama ISLAM sebagai objek perdebatan yang ujungnya tanpa disadari menjadi bahan "tertawaan" golongan lainnya. Sampai pada klimaksnya diadakanlah debat terbuka antara tokoh-tokoh ISLAM dan ISLAM NUSANTARA di Cianjur, Jawa Barat, pada hari Sabtu 28 Juli 2018 mulai pukul 22 : 30 WIB digelar Munazhoroh atau debat terbuka antara FPI dan Ansor di Ponpes Hibatussadiyyah,  Pimp KH. Cepy Hibatullah. Berikut catatan yang berhasil penulis dapatkan dari berbagai sumber terpecaya.

Debat Terbuka Dengan Ansor Soal Islam Nusantara, Habib Hanif Alatas: Jangan Sampai Jadi Sarden Babi Cap Onta
Kyai Salman, Lc,  selaku narasumber pertama dari kubu pro Islam Nusantara menyampaikan bahwa Islam Nusantara bukanlah mazhab baru akan tetapi Isnus adalah konsep beragama Islam Ahlusunnah wal Jamaah yang santun, ramah dan mengedepankan pendekatan budaya dalam dakwah, sebagaimana hal ini terwujud di nusantara sejak berabad-abad yang lalu.

Sementara itu, Habib Hanif Alathas, Lc. sebagai Ketua Umum FSI menyampaikan materi menggunakan power point dengan judul " Islam Nusantara,  antara Konsep dan Realita " di awal pemaparannya beliau sampaikan bahwa dalam menilai Islam Nusantara jangan sampai tertipu dengan bungkus dan teori,  namun kita juga harus melihat kepada substansi dan realita yang ada.

Beliau memaparkan bahwa jika melihat konsep tertulis yang ditawarkan,  khususnya yang dirumuskan dalam hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di Malang, yaitu; Islam Nusantara adalah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah yang anti Radikal dan Liberal,  juga Syiah dan Wahabi, dengan cara dakwah yang sopan santun serta mengedepankan akhkaqul karimah, Maka defenisi ini sangat bagus dan menarik.

Namun realita dan fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, Islam nusantara dibajak oleh kelompok Liberal untuk mengkampanyekan kebencian kepada Arab.

Di samping itu, Isnus juga kerap dijadikan kendaraan untuk meligitimasi ajaran-ajaran yang menyimpang seperti Rofidhoh,  Liberalisme,  Pluralisme bahkan sampai Komunisme,  juga banyak tokoh-tokoh Isnus menganggap ajaran Islam seperti CadarGamis,  Jenggot, dll sebagai BUDAYA ARAB,  bahkan menebar kebencian kepada para Habaib.

Untuk membuktikan ini semua Habib Hanif menampilkan fakta tak terbantahkan berupa tampilan video-video pernyataan nyeleneh para petinggi Islam Nusantara,  seperti KH Said Agil Siroj, KH Yahya Kholil Tsaquf, Ulil Abshar Abdalah, Dll.

Bahkan menariknya,  beliau sekaligus membantah semua statemen nyeleneh para petinggi Isnus dengan nukilan-nukilan  dari berbagai Karya Hadhrotusyekh KH Hasyim Asyari, sehingga nampak jelas bahwa berbagai kengawuran yang nampak dari tokoh-tokoh tersebut pada hakikatnya adalah penyimpangan terhadap koridor yang telah digariskan pendiri NU.

Beranjak dari hal tersebut,  Habib Hanif menuturkan bahwa ada kesenjangan yang begitu dalam antara teori yang indah dan fakta yang menyakitkan sehingga beliau mengatakan " Jangan sampai Islam Nusantara ini seperti sarden babi cap onta , bungkusnya menarik namun isinya rusak,  beda jauh "

Habib Hanif dalam hal ini juga meminta maaf kepada moderator karena waktu persentasi beliau melebihi durasi yang disediakan, karena kahwatir jika dipotong akan menjadikan pemahamannya rancu,  sebab pemahaman yang keliru lebih bahaya dari sekedar melewati waktu karenanya Habib Hanif juga mempersilahkan manakala pihak pro Islam Nusantara ingin diberikan waktu tambahan,  agar adil.

Dalam sesi tanggapan,  Kyai Salman mengutarakan bahwa Habib Hanif telah keluar dari Tema Islam Nusantara, beliau lebih fokus kepada pemikiran-pemikiran negatif KH. Said Agil Siroj, padahal Said Agil hanya salah satu dari Pengusung Islam Nusantara.  

Habib Hanif dengan lugas menjawab bahwa dia tidak sama sekali keluar dari tema,  justru judul materi beliau adalah Membandingkan Islam nusantara antara konsep dan realita yang ada, KH Said Agil adalah pemilik Ide Islam Nusantara ( Beliau menunjukkan Video pengakuan Said Agil bahwa ISNUS adalah Idenya)  sehingga statemen-statemen beliau menjadi cerminan dari Islam Nusantara itu sendiri,  ini yang menjadi persepsi umum.

Andai kata yang mengucapkan semua statemen adalah soerang santri maka tidak akan menjadi masalah, namun yang mengucapkan adalah para petinggi PBNU hasil muktamar NU ke 33 di Jombang, maka akan menjadi representasi dari Islam Nusantara itu sendiri.

Habib Hanif melanjutkan bahwa lain halnya jika PBNU langsung membantah pernyataan-pernyataan yang nyeleneh ini dan menyatakan bahwa itu bukan bagian dari Islam Nusantara,  maka konsep ini akan tetap terjaga.

Tapi faktanya sampai saat ini tidak ada bantahan resmi sama sekali bahkan terkesan dibiarkan dan selalu dibela.  Dari sini,  beliau melihat bahwa Istilah Islam Nusantara masih sangat rentan dibajak oleh siapun,  sehingga berbagai aliran sempalan berlindung dibelakang baju Islam Nusantara, dari pada kita mempertaruhkan akidah Ummat lebih baik pakai Istilah yang sudah pasti dan terbukti,  yaitu Ahlusunnah wal Jamaah.

Kalau dipandang masih kurang jelas maka tambahkan Asyariyyah,  kaidahnya sudah jelas,  konsepnya jelas,  kitab-kitab rujukannya sudah jelas,  Dipegang teguh oleh para ulama dari masa kemasa,  sehingga tidak bisa dibajak oleh pihak manapun. Jika ada yang jelas dan terbukti,  mengapa harus cari yang bermasalah ?

KH. Cepy Hibatullah selaku tuan rumah yang mendukung Islam nusantara juga menanggapi,  bahwa sebetulnya ia gregetan melihat statemen-statemen para petinggi NU,  semisal Gusdur,  KH Said Agil dan KH Yahya Kholil Tsaquf,  namun beliau memandang bahwa ucapan-ucapan mereka tidak bisa dihukumi secara dzhohir karena mereka termasuk Ahlussama ( Penduduk Langit  ) sehingga statemennya itu masuk kategori Siyasah Aliyaah ( politik tingkat tinggi )  yang cukup kita sikapi dengan Husnudzhon.

Dengan santai Habib Hanif menjawab bahwa Syariat memerintahkan kita untuk menilai apa yang nampak,  adapun perkara bathin kita serahkan kepada Allah SWT,  hal ini dicontohkan oleh Wali Songo yang menghukum Syekh Siti Jenar,  begitu pula  Ulama yang menghukum mati Hallaj,  meskipun keduanya Ahli Hakikat dan Makrifat namun ulama tetap menghukumi secara dzhohir.

Disamping itu syariat memerintahkan kita untuk berbicara sesuai dengan kadar akal lawan bicara kita,  terlebih seorang ulama yang berbicara dihadapan ummat,  jangan sampai apa yang disampaikan menjadi fitnah yang mendangkalkan akidah, dalam hal ini akidah ummat dipertaruhkan.  Nasihat ini pernah disampaikan oleh al-Marhum KH. M. Subadar Besuk  seorang ulama sepuh dan kharismatik NU kepada KH Said Agil saat diskusi di Sidogiri,  Pasuruan.

Habib Hasan Asseggaf selaku Ketua DPW FPI Bogor juga membacakan kutipan dari kitab Bughyah al-Mustarsyidin, bahwa Seorang Ulama Haram sembarangan bicara depan Ummat,  apalagi masalah-masalah yang membuat ummat jadi menggampangkan dan bermain-main dalam urusan Agama, ini sangatlah berbahaya,  karenanya ulama-ulama terdahulu,  khususnya  Almarhum KH Agil Siroj ( Ayahanda Said Agil)   sangat berhati-hati dalam bicara depan ummat mereka tidak pernah menyampaikan hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah.

Gus Lutfi Rohman selaku ketua DPD FSI Jawa Tengah juga menyampaikan bahwa beliau hadir dalam Muktamar NU Jombang,  beliau sebagai orang NU sejak lahir mempertanyakan tema " Islam Nusantara  Untuk Perdamaian Dunia " yang diusung dalam muktamar Jombang, Beliau mengatakan " Saya lihat sendiri Muktamar Jombang itu Kisruh,  sampai-sampai Gus Mus menangis ketika baca head line  berita saat itu ( Muktamar Muhammadiyah Teduh,  Muktamar NU Kisruh) , Bagaimana Konsep ini mau memberikan kedamaian dunia,  kalau didalam NU saja membuat rusuh ?? "  tutur Gus Lutfi.

Pada sesi penutup,  KH Cepy selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak atas terselenggaranya debat publik ini.

Sebagai Closing statemen, Habib Hanif mengutip Nasihat Hadhrotusyekh KH Hasyim Asyari dalam kitabnya Mawaidz,  agar kita semua meninggalkan fanatisme golongan dan berlomba lomba membela Alquran serta Agama, karena jihad melawan para perusak  Agama adalah wajib.

Sejak awal, Debat publik ini berjalan dengan santun, akhlaqul karimah,  aman dan Kondusif, sampai ditutup dengan doa oleh Habib Hud Alidrus. (-EK-)

-----------------------------------------

Wahai saudaraku, ingatlah kita sedang diadu domba, bersatulah..!!!