Artikel

Home  »  News  »  Cybercrime Pada Jasa Perbankan Di Indonesia : Hilangnya Dana Nasabah Bank Mandiri Setelah Transaksi Menggunakan Internet Banking
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)

Cybercrime Pada Jasa Perbankan Di Indonesia : Hilangnya Dana Nasabah Bank Mandiri Setelah Transaksi Menggunakan Internet Banking

Selasa, 25 Agustus 2015 - 05:13:20 WIB | Forensik Digital | komentar : (0) | dibaca : 667
Cybercrime Pada Jasa Perbankan Di Indonesia : Hilangnya Dana Nasabah Bank Mandiri Setelah Transaksi Menggunakan Internet Banking

Kejahatan cybercrime kembali terjadi dalam dunia perbankan Indonesia. Kali ini menimpa seorang pengusaha dari Bengkulu. Tidak tanggung-tanggung dalam hitungan menit, hampir 50 juta raib. Stress nggak sih….????

Kasus ini berawal dari transaksi yang dilakukan oleh seorang nasabah Bank Mandiri yang melakukan transfer menggunakan Internet-Banking. Akibat kelalaian nasabah, uang yang dimilikinya hilang “menguap” tanpa jejak.

Untuk lebih jelas, kronologis kasusnya, penulis berhasil mendapatkan dari berbagai sumber sebagai bahan pembelajaran bagi para netizen, dalam menghadapi kasus-kasus cybercrime perbankan lainnya, berikut kronologis lengkapnya.

Seorang nasabah Bank Mandiri di Bengkulu bernama Firdaus mengaku uangnya hilang sejumlah Rp 49.157.889. Firdaus menceritakan kronologi hilangnya uang miliknya setelah Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas menyebutkan bahwa tindakan pencurian data nasabah atau yang dikenal dengan istilah phishing yang menimpa Firdaus diakibatkan oleh virus yang disebar di komputer (baca : Malware dan Cyber Ecosystem).

“Pada 15 Juni 2015 saya melakukan transaksi internet banking transfer uang ke rekan bisnis sebesar Rp 8.405.000 juta, uang tersebut terkirim dan diterima rekan saya. Sebelum transfer, saldo di rekening ada uang Rp 109.845.727, uang didapat baru empat hari sebelumnya dari berutang untuk bisnis,” ungkap Firdaus, Selasa (11/8/2015).

Setelah melakukan transfer uang Rp 8.405.000, dia lalu mengecek saldo. Dia terkejut karena saldonya tersisa Rp 52.216 338. Firdaus mengaku langsung menghubungi pihak Bank Mandiri. Namun, pihak customer service bank mengaku tak bisa lagi mengecek aktivitas transaksi nasabah karena aturan baru.

“Karena posisi hari sudah sore maka keesokan harinya saya mendatangi Bank Mandiri di Jalan S Parman, Kota Bengkulu. Buku tabungan saya cetak dan memang ada uang Rp 49.157.889 ditransfer ke rekening BTN saat itu. Belum diketahui siapa pemilik rekening itu,” tuturnya.

Saat melakukan konfirmasi ke BTN, Firdaus mengetahui bahwa pemilik rekening itu adalah Risto Matillah, warga negara Finlandia, pemilik rekening BTN di Nusa Dua, Bali.

Mengetahui kejanggalan tersebut, Firdaus langsung menghubungi pihak bank Mandiri dan melaporkan kejadian itu.

“Lalu pada 19 Juni 2015, saya cek internet banking dan uang yang hilang tersebut kembali ke rekening saya.”. Usai melaporkan kejadian tersebut, dana sebesar Rp 49 juta kembali masuk ke rekeningnya. Namun sayang, dana tersebut tak bisa ditarik.

Keganjilan terjadi saat memeriksa saldo melalui sms banking, Firdaus justru menemukan dana sebesar Rp 100 triliun terdapat dalam rekeningnya.

"Saya langsung telepon lagi pusat layanan pelanggan dan melaporkan adanya saldo mencapai Rp 100 triliun dan pihak bank langsung menonaktifkan sementara rekening saya," dia menguraikan.

Firdaus kemudian memperlihatkan selembar kertas berisi informasi saldo sebesar Rp 100 triliun dalam rekening tabungan yang sempat dicetaknya.

Hal mengejutkan selanjutnya, Firdaus justru kehilangan kembali uang yang sebesar Rp 49 juta, demikian pula dengan dana Rp 100 triliun tersebut.

Kasus ini pun sudah dilaporkan ke pihak bank, yang ternyata tidak bersedia mengganti dana yang hilang itu kembali. "Kami minta keadilan, karena kasus serupa ini bisa saja menimpa nasabah lain," ucapnya.

Firdaus mengharapkan laporan yang sudah disampaikan ke Polda Bengkulu pada 26 Juni dapat ditindaklanjuti sehingga ada kejelasan tentang pihak yang bertanggung jawab dalam kasus ini.

Dengan adanya peristiwa diatas, merujuk pada tulisan Cybercrime Pada Jasa Perbankan Di Indonesia yang di publikasikan pada 01 Jul 2013 oleh Vegitya Ramadhani Putri, yang mengutip The U.S. Department of Justice mengatakan bahwa computer crime sebagai:”…any illegal act requiring knowledge of Computer technology for its perpetration, investigation, or prosecution“. Pengertian lainnya diberikan oleh Organization of European Community Development, yaitu: “any illegal, unethical or unauthorized behavior relating to the automatic processing and/or the transmission of  data“.

Sedangkan menurut Eoghan Casey “Cybercrime is used throughout this text to refer to any crime that involves computer and networks, including crimes that do not rely heavily on computer“. Ia mengkategorikan cybercrime dalam 4 kategori yaitu:

  1. A computer can be the object of Crime.
  2. A computer can be a subject of crime.
  3. The computer can be used as the tool for conducting or planning a crime.
  4. The symbol of the computer itself can be used to intimidate or deceive.

Polri dalam hal ini unit cybercrime menggunakan parameter berdasarkan dokumen kongres PBB tentang The Prevention of Crime and The Treatment of Offlenderes di Havana, Cuba pada tahun 1999 dan di Wina, Austria tahun 2000, menyebutkan ada 2 istilah yang  dikenal :

  1. Cybercrime in a narrow sense (dalam arti sempit) disebut computer crime: any illegal behaviour directed by means of electronic operation that target the security of computer system and the data processed by them.
  2. Cybercrime in a broader sense (dalam arti luas) disebut computer related crime: any illegal behaviour committed by means on relation to, a computer system offering or system or network, including such crime as illegal possession in, offering or distributing information by means of computer system or network.

Merujuk kepada artikel diatas, kejahatan komputer semakian mengkhawatirkan, Sebagaimana yang pernah di rilis dalam JURNAL ASIA yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi serangan Cybercrime Ke-dua Terbanyak di Dunia. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi para penegak hukum untuk mengantisipasi modus-modus yang digunakan oleh pelaku kejahatan cyber ini. Salah satu modus yang sering terjadi dalam perbankan, adalah pencurian data-data nasabah melalui teknik-teknik tertentu. Jenis layanan perbankan yang bertujuan untuk memudahkan  nasabahnya, menjadi target dalam pengembangan usaha jenis jasa keuangan ini. Salah satu layanan yang sering digunakan adalah Internet banking dan M-Banking, selain murah, cepat, dan mudah dalam menggunakannya.

Internet BankingInternet banking kini bukan lagi istilah baru bagi masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di wilayah perkotaan. Hal tersebut disebabkan semakin banyaknya perbankan nasional yang menyediakan layanan tersebut. Internet banking merupakan salah satu pelayanan perbankan tanpa cabang, yaitu berupa fasilitas yang akan memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi perbankan tanpa perlu datang ke kantor cabang. Layanan yang diberikan internet banking kepada nasabah berupa transaksi pembayaran tagihan, informasi rekening, pemindah bukuan antar rekening, infomasi terbaru mengenai suku bunga dan nilai tukar valuta asing, administrasi mengenai perubahan Personal Identification Number (PIN), alamat rekening atau kartu, data pribadi dan lain-lain, terkecuali pengambilan uang atau penyetoran uang. Karena untuk pengambilan uang masih memerlukan layanan ATM dan penyetoran uang masih memerlukan bantuan bank cabang.

Praktek internet banking ini jelas akan mengubah strategi bank dalam berusaha. Setidaknya ada faktor baru yang bisa mempengaruhi pengkajian suatu bank untuk membuka cabang baru atau menambah ATM. Internet banking memungkinkan nasabah untuk melakukan pembayaran-pembayaran secara online. Internet banking juga memberikan akomodasi kegiatan perbankan melalui jaringan komputer kapan saja dan dimana saja dengan cepat, mudah dan aman karena didukung oleh sistem pengamanan yang kuat. Hal ini berguna untuk menjamin keamanan dan kerahasian data serta transaksi yang dilakukan oleh nasabah. Selain itu, dengan internet banking, bank bisa meningkatkan kecepatan layanan dan jangkauan dalam aktivitas perbankan

Dalam perkembangan teknologi perbankan seperti internet banking, pihak bank harus memperhatikan aspek perlindungan nasabah khususnya keamanan yang berhubungan dengan privasi nasabah. Selain itu, aspek penyampaian informasi produk perbankan sebaiknya disampaikan secara proporsional, artinya bank tidak hanya menginformasikan keunggulan produknya saja, tapi juga harus menyampaikan sistem keamanan penggunaan produk yang ditawarkan. Semakin berkembangnya teknologi informasi saat ini tidak dapat dipungkiri juga terdapat kejahatan-kejahatan dalam dunia maya atau lebih dikenal dengan cybercrime. Kejahatan dalam internet banking juga merupakan salah satu bentuk kejahatan di dalam dunia maya di bidang perbankan

Analisis Kasus

Kelalaian nasabah dalam menggunakan internet, menjadi salah satu faktor terjadinya FRAUD. Dalam kasus ini posisi nasabah lemah dalam menuntut hak-hak agar dapat dipulihkan. Namun, saat ini pihak keamanan dan otoritas perbankan sedang melakuka investigasi menyeluruh atas kasus tersebut..

Meskipun telah terjadi cybercrime pada internet banking namun sebenarnya layanan ini mempunyai beberapa kelebihan dan memberikan manfaat yang besar bagi nasabah. Dalam layanan internet banking terdapat faktor-faktor pendukung yang mempengaruhi nasabah dalam memutuskan untuk memakai layanan internet banking diantaranya adalah:

  1. Transaksi dapat dilakukan setiap waktu selama 24 jam, dimana saja dan kapan saja oleh nasabah. Kemudahan akses 24 jam ini sangat memberikan manfaat bagi nasabah yang tidak mempunyai banyak waktu untuk pergi ke bank atau ATM
  2. Transaksi dapat dilakukan lebih cepat, efektif dan efisien. Melalui internet nasabah dapat melakukan transaksi dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari ATM
  3. Tidak perlu antri di kantor Bank ataupun di ATM untuk melakukan transaksi perbankan non-tunai (transfer dana) sehingga sangat menghemat waktu, biaya dan tenaga.
  4. Praktis (tidak perlu membawa uang tunai) dan terhindari dari risiko kehilangan harta benda maupun nyawa karena membawa uang tunai untuk keperluan transaksi pembayaran dalam jumlah besar
  5. Dapat membayar berbagai tagihan, seperti tagihan kartu kredit, tagihan listrik, air dll tanpa harus antri di bank atau ATM

Selain manfaat yang diterima pengguna layanan Internet Banking terdapat beberapa kekurangan dari internet banking yang dapat dialami oleh seorang nasabah, yaitu:

  1. Nasabah harus memiliki koneksi internet yang stabil, sebab sangat rawan terjadi cracking apabila koneksi internet tidak stabil
  2. Dana nasabah dapat dibobol apabila nomor PIN dan token internet banking diketahui oleh orang lain. Dalam banyak kasus dana nasabah yang dbobol tidak dapat dikembalikan

Cybercrime PhisingUntuk menghindari cybercrime atau paling tidak meminimalisir terjadinya kejahatan via internet banking kita harus berhati-hati pada saat menggunakan layanan internet banking. Berikut ini adalah solusi bagi nasabah atau tips cara aman dalam bertransaksi menggunakan layanan internet banking :

1. Hindari PC Umum
Jangan pernah mengakses akun internet banking dari komputer yang ditempatkan secara umum. Dalam hal ini bisa warnet ataupun komputer-komputer yang banyak orang bisa mengaksesnya. Spyware yang ada di PC umum tersebut bisa mengintai transaksi yang sedang dilakukan, dan program tersebut juga dapat mencuri data-data dari nasabah yang melakukan transaksi tersebut.

2. Pengawasan Rutin
Melakukan pengecekan secara rutin terhadap akun online bank yang dimiliki. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada transaksi yang mencurigakan dalam jejak akun. Apabila terjadi transaksi yang tidak sewajarnya, sebaiknya langsung melapor pada Bank yang bersangkutan.

3. Perkuat Password
Menggunakan PIN atau password yang tidak mudah ditebak. Password yang sulit ditembus adalah penggabungan dari huruf dan angka. Jangan pernah berfikir untuk menggunakan tanggal lahir sebagai password, karena sangat mudah ditebak dan banyak orang yang sudah tahu. Akan lebih baik apabila password tersebut diubah secara rutin. Sebuah perusahaan keamanan bahkan merekomendasikan untuk melakukan perubahan password setiap tiga bulan sekali.

4. ‘Jangan Percaya’
Nasabah sebaiknya tidak memberitahukan PIN atau password kepada siapapun termasuk pada pihak Bank. Bank mungkin sesekali menanyakan informasi pribadi, seperti tanggal lahir, nama tengah atau nama ibu kandung untuk verifikasi. Namun bank yang baik tidak akan menanyakan PIN atau password rekening bank nasabah

5. Software Antivirus
Komputer yang digunakan untuk melakukan transaksi e-banking juga harus dibekali dengan keamanan yang mumpuni, dalam hal ini adalah ketersediaan antivirus dan perangkat internet sekuriti. Sebab aplikasi sekuriti ini akan melindungi pengguna yang melakukan transaksi via internet banking. Namun dalam aplikasi software ini juga harus dilakukan update virus definisi dari software keamanan tersebut, apabila tidak selalu di update maka akan menjadi percuma.

6. Kumpulkan Kwitansi
Hal ini mungkin dianggap sepele bagi beberapa orang, namun ketika selesai melakukan transaksi online ada baiknya jika bukti-bukti transaksi elektronik yang diperoleh tersebut dikumpulkan dalam satu file. Hal ini sebagai proses verifikasi ketika ada transaksi-transaksi mencurigakan.

7. Pencucian Uang
Hindari menggunakan akun rekening pribadi untuk beragam aktivitas transaksi bisnis yang melibatkan uang orang lain dalam jumlah banyak. Sebab ini bisa dianggap sebagai aktivitas money laundering (pencucian uang) dan dilarang oleh hukum. (baca : Mengenal Money Laundering, Modus, dan Tahapannya).

 

Sumber :