Artikel

Home  »  News  »  Berita Bohong atau HOAX Yang Mendunia
Rating: 2.8/10 (5 votes cast)

Berita Bohong atau HOAX Yang Mendunia

Kamis, 8 Maret 2018 - 09:37:17 WIB | Teknologi Informasi | komentar : (0) | dibaca : 182
Berita Bohong atau HOAX Yang Mendunia

Isu konten penyebaran berita bohong yang saat ini menjadi topik hangat di berbagai
halaman berita nasional baik yang konvensional maupun digital. Seiring dengan tahun politik yang semakin memanas, periode 2015-2019 akan menjadi agenda utama dalam memberantas isu-isu berita bohong atau "hoax".

Tapi, apakah berita-berita yang ada saat ini semuanya berisi berita bohong..? berita-berita yang akan memberikan berbagai macam opini untuk menciptakan situasi yang semakin tidak menentu, tidak kondusif, saling curiga, saling bantah, saling fitnah, dan lain sebagainya hanya untuk satu kata "kepentingan".

Bagi sebagian orang "kepentingan" itu akan menjadi senjata ampuh untuk menambah referensi untuk golongannya saja. Kalau berita "hoax" itu berisi berita yang menurut golongan tersebut sangat membantu meningkatkan citra, maka berita "hoax" itu tidak akan dibantah atau di klarifikasi, tapi jika sebaliknya....bantahan sana sini, klarifikasi sana sini, talk show dan con-press diberbagai tempat hanya untuk tabayyun.

Itulah sebagian kecil dari fenomena yang terjadi saat ini. Beberapa bulan lalu, Facebook dan Google berencana mengembangkan teknologi untuk menghalau hoax ini menjadi trending topic. Baru sebatas itu. Keefektifan teknologi tersebut pun belum terbukti. Modus operandi pelaku kejahatan, biasanya melampaui pengetahuan yang sudah dimiliki penegak hukum. Tidak jarang, mereka berada beberapa langkah di depan!

Alasan orang memproduksi hoax bisa jadi jangan beragam, mulai dari sekedar iseng sampai dengan motivasi finansial dan politis. Media sosial adalah ladang penyebangan hoax yang subur. Ketika kita terbiasa membagi berita tanpa proses pemeriksaan yang seksama (tabayyun), kita dapat menjadi (calon) pelaku penyebaran hoax. Ketika kita dapat menjadi pelaku dengan mudah, kita pun bisa dengan gampang juga menjadi korban.

Dampak penyebaran hoax bisa sangat luar biasa. Konflik sosial dapat terpicu. Konflik horizontal antarkelompok warganet (netizen) tidak jarang dipicu dan bereskalasi karena hoax. Konflik dunia maya ini pun akhirnya mewujud menjadi konflik di dunia nyata. Konflik warisan dari pemilihan presiden yang terakhir, sebagai contoh, sampai hari ini masih dengan mudah kita temukan di media sosial. Akibat lanjutannya dapat lebih mengkhawatirkan? Saat ini, kita akan lebih mudah percaya dengan hoax yang terus-menerus dan membabi-buta membombardir kita, dibandingkan dengan berita benar yang jarang diakses.

Saat ini, masalah terkait dengan informasi berbeda dengan beberapa dekade lalu. Dulu, masalah yang muncul adalah mencari informasi. Saat ini, masalahnya adalah menyaring informasi. Hoax jelas harus masuk ke keranjang sampah dalam proses penyaringan ini.

Dampak buruk lain adalah terbentuknya masyakarat masokhis tuna empati yang cenderung sarkastik dan menikmati penderitaan orang lain. Ujungnya adalah tertutupnya manfaat media sosial. Keenam, apa yang bisa kita lakukan untuk menghalau hoax? Biasakan menjadi manusia yang berpikiran terbuka dan terlatih dalam diskusi yang dilandasi fakta. Pendekatan ilmiah berbasis data tanpa bias diperlukan. Selain itu, suarakan kebenaran dengan lebih lantang. Di sini, publik perlu diedukasi untuk membentuk ëketahanan informasií, bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima, tidak menelannya mentah-mentah, dan tidak asal menyebarkannya. Pemahaman dan ketaatan atas nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibawa oleh norma agama juga menjadi sangat penting. Ini adalah rem paling pakem.

Di sini, kearifan level tinggi perlu disemai. Tanpanya, ekses negatif hoax dapat mencapai tingkat yang semakin tidak terkendali. Jika ini terjadi, jangan kaget jika warganet semakin lama akan menganggap penyebaran hoax menjadi wajar, merundung menjadi gaya hidup, dan ujungnya, akan menjadi warganet yang tuna empati dan mementingkan diri sendiri.

Karenanya, mulai sekarang, ada baiknya gunakan tiga saringan berikut sebelum menyebar sebuah konten: apakah konten benar, apakah konten mengandung kebaikan, apakah konten mengandung manfaat. Jika salah satu jawaban pertanyaan adalah tidak, ada baiknya konten tersebut tidak perlu disebar lebih lanjut.

-- EK --