Artikel

Home  »  Serba Serbi »  Analisis Fenomena Reuni 212
Rating: 5.4/10 (1654 votes cast)

Analisis Fenomena Reuni 212

Selasa, 4 Desember 2018 - 09:09:05 WIB | Serba Serbi | komentar : (0) | dibaca : 46193
Analisis Fenomena Reuni 212

Jakarta - Menjadi bagian sejarah merupakan keinginan penulis dalam merefleksikan aktifitas perjalan hidup yang lebih bermakna dan berwarna. Fenomena alam dan panggilan hati menjadi landasan para mujahid mensukseskan acara keagaamaan yang sejuk, damai, dan penuh rasa persaudaraan umat Islam Indonesia.

Aksi bela islam ini berawal dari keputusasaan kasus hukum penistaan agama yang tidak berpihak kepada Umat Islam. Rezim "pinokio" menggunakan "kuasanya" dengan berbagai cara untuk meredam kasus hukum yang menjerat antek rezim. Puncaknya 212 tahun 2016 dengan dihadiri jutaan umat muslim datang ke monas dengan satu tuntutan keadilan hukum bagi penista agama.

Siapapun yang hadir dalam aksi bela Islam 212 tahun 2016, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk hadir dalam aksi bela tauhid 212 tahun 2018, pastilah semuanya mendapat kesimpulan yang sama : 

PESERTA AKSI BELA TAUHID 212 TAHUN 2018 LEBIH BANYAK DARI PESERTA 212 TAHUN 2016.

Beberapa pengamat mengungkap kalkulasi jumlah peserta, ada yang menyebut 8 juta hingga sepuluh juta peserta. Sedangkan aksi bela Islam tahun 2016 yang lalu dihadiri sekitar tujuh juta peserta.

Aksi Kali ini memang unik, selain mengulang heroisme aksi bela Islam 212 tahun 2016, aksi bela tauhid kali ini semakin mengokohkan ide persatuan umat Islam dibawah naungan bendera tauhid mulai menampakkan keyakinan baru ditengah benak umat. 

Persatuan Umat Islam bukanlah mitos, sebagaimana hadirnya puluhan juta umat menyemut ke Jakarta. Padahal, sebelum aksi semua corong kekuasaan telah dikerahkan untuk menebar teror secara massif dan terbuka, menakut-nakuti dengan politik "genderuwo" yang digunakan. Dan tidak sedikit peserta yang ingin datang dari daerah-daerah diluar jakarta di hadang, diintimidasi dengan sikap-sikap "sontoloyo". 

Tapi, kekuatan Allah tidak ada yang bisa menandinginya, dengan tekat dan semangat, satukan hati dan luruskan niat, tidak dibayar dan tidak di sponsori, para mujahid yang dari daerah akhirnya bisa sampai di Monas berkumpul dengan saudara-saudara Muslim dari daerah lain di Indonesia.

Membludak.....penuh....sesak....tapi tetap damai, tetap santun, semua tersenyum, dan bangga bisa ikut menjadi bagian dalam sejarah di Indonesia karena panggilan hati yang tulus oleh kekuatan Zat yang Maha Kuasa.

Penulis, melihat kumpulan massa diaksi reuni 212 tahun 2018 lebih banyak dibandingkan tahun tahun sebelumnya, mengapa...? Berikut analisis penulis dalam perjalanan aksi bela islam dalam reuni 212.

Pertama, aura persatuan umat Islam telah masuk ke sanubari umat, sehingga siapapun yang pernah hadir dalam aksi bela Islam 212 tahun 2016, pastilah hatinya akan saling terpaut dengan semangat dan ikatan persatuan umat Islam. Semangat inilah, yang mendorong alumni 212 tahun 2016 tergerak hatinya untuk hadir kembali pada tahun ini, kecuali mereka benar-benar mendapat udzur.

Kedua, kisah heroik aksi bela Islam 212 tahun 2016 membuat umat Islam yang tidak sempat mencicipi lezatnya nikmat persatuan, kesatuan hati dan pikiran, merasa perlu dan wajib hadir pada gelaran aksi bela tauhid tahun ini. Ini merupakan tambahan peserta yang membuat jumlah peserta reuni semakin berlimpah.

Ketiga, momentum pembelaan bendera tauhid (dan inilah latar belakang utamanya) yang sebelumnya dihina oleh putusan pengadilan lucu-lucuan, penjara 10 hari dan denda 2000 perak menjadi pembakar semangat untuk hadir, setelah saluran aspirasi pembelaan melalui jalur hukum ditutup rapat oleh rezim zalim.

Keempat, meningkatnya penzaliman rezim berupa kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh umat, membuat umat mengajukan perlawanan secara politik terhadap rezim melalui aksi bela tauhid, berhimpun dengan umat Islam lainnya. Apalagi, menjelang aksi bela tauhid rezim menggunakan hukum untuk menjalankan visi kekuasaan mengkriminalisasi kader ormas Islam yang besar, yang hal ini memicu perlawanan persyarikatan terhadap rezim.

Kelima, kegagalan pilar politik rezim untuk mengkanalisasi umat melalui kubangan lumpur rezim. Partai penopang rezim baik yang jelas-jelas nasionalis sosialis atau menisbatkan diri sebagai partai Islam, ternyata tidak memiliki akar legitimasi ditengah umat. Partai penopang rezim, telah gagal menjajakan fungsi sebagai penyambung lidah rakyat untuk mengkanalisasi peserta.

Keenam, kontestasi politik menimbulkan aspirasi koor ditengah umat bahwa apapun keadaan yang melingkupinya, meskipun umat berbeda pada beberapa hal, tetapi umat ijma ingin mengganti rezim yang represif dan anti Islam, mendongkelnya secara konstitusional dari tampuk kekuasaan.

Lebih jauh, agenda reuni 212 ini menjadi ajang konsolidasi alamiah antara umat, bahkan antara umat dengan militer yang hadir digerakkan rezim untuk mengamankan aksi dengan misi "show of force".

BERKIBAR SATU JUTA BENDERA TAUHID

Diperkirakan jutaan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam acara Reuni 212 yang diadakan di Kawasan Monumen Nasional (Monas) pada Ahad (2/11). Acara berlangsung sejak dini hari hingga siang hari.

Massa yang menyemut memenuhi kawasan Monas yang terletak di jantung Kota Jakarta tersebut, juga membawa bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid ‘La Ilaha illaLLah Muhammad RasuluLlah’.

Bendera Tauhid

Banyaknya bendera Tauhid tersebut mengingatkan pembawa acara ustadz Haikal Hassan peristiwa pembakaran bendera Tauhid saat peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2018 yang lalu di Garut, Jawa Barat. 

“Banyak banget nih bendera Tauhid, ada yang berani bakar? Bakar dah, coba lu bakar,” kata Haikal dari atas panggung, Ahad (2/11).

Ucapan ustadz Haikal itu disambut kibaran bendera Tauhid yang dilakukan peserta yang merupakan alumni dari Aksi Bela Islam 212 yang terjadi pada 2 Desember 2016 di Kawasan Monas, Jakarta.

Konsolidasi alamiah ini juga akan menebar keseluruh pelosok negeri, seiring kepulangan peserta bela tauhid 212 ke daerah asal. Dalam konsolidasi alamiah ini, pematangan pilar dan arah perubahan sangat mungkin untuk menghimpun dan mengumpulkan umat Islam untuk bersatu secara penuh, dibawah naungan kalimat tauhid, dengan komitmen menegakkan hukum tauhid, dan menjadikan Islam sebagai pilar kedaulatan negara.

Akan ada pergumulan pemikiran secara alamiah untuk mencari penjelasan rinci tentang konsepsi perubahan yang idiil, dimana Islam menjadi asas sekaligus sentral perubahan. Perubahan rezim sekaligus sistem yang akan menggusur kapitalisme demokrasi dari kancah politik peradaban dunia, yang bertolak dan dimulai dari negeri ini. 

Kini pihak petahana panik, nyinyir dengan segala argumen "dungu" yang menyesatkan. Bravo 212. (-EK-)

SHARE TO:
Ada 0 komentar untuk arikel ini
Isi Komentar

Nama :
Email :
Komentar : Sisa Karakter
Captcha : Security Code
Type Code :


Halaman ini menerima komentar terkait artikel yang berjudul Analisis Fenomena Reuni 212 . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika mengandung SPAM, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Berita Terkait : Serba Serbi

Quote of the day

Courage is not the absence of fear. Brave man is not a man who no feel afraid, but he who succeeded in the face of fear.

Calender

« Nov 2019 »
Min Sen Sel Rab Kam Jum Sat
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7

Artikel Terakhir

Digital Forensics Investigation Models

Digital Forensics Investigation Models
Sabtu, 23 Maret 2019 - 19:27:07 WIB

Janji Manismu Menyakitiku, Mau Nambah Lagi?

Janji Manismu Menyakitiku, Mau Nambah Lagi?
Jum`at, 18 Januari 2019 - 11:50:53 WIB

Anies Baswedan : SALAM DUA JARI

Anies Baswedan : SALAM DUA JARI
Minggu, 13 Januari 2019 - 02:22:10 WIB

Analisis Fenomena Reuni 212

Analisis Fenomena Reuni 212
Selasa, 4 Desember 2018 - 09:09:05 WIB

Trend Persekusi di Zaman Millenial

Trend Persekusi di Zaman Millenial
Rabu, 17 Oktober 2018 - 22:46:58 WIB

Istilah Cebong dan Kampret Ala Indonesia

Istilah Cebong dan Kampret Ala Indonesia
Senin, 8 Oktober 2018 - 14:14:38 WIB

Mengapa Islam Nusantara....?

Mengapa Islam Nusantara....?
Senin, 30 Juli 2018 - 19:01:22 WIB

Drone Emprit : Monitoring Sosmed Buatan Anak Indonesia

Drone Emprit : Monitoring Sosmed Buatan Anak Indonesia
Kamis, 26 Juli 2018 - 02:43:49 WIB

Pulang Kampung Dari Jakarta Menuju Surabaya, Lewat Tol ?

Pulang Kampung Dari Jakarta Menuju Surabaya, Lewat Tol ?
Selasa, 13 Maret 2018 - 12:20:58 WIB

Berita Bohong atau HOAX Yang Mendunia

Berita Bohong atau HOAX Yang Mendunia
Kamis, 8 Maret 2018 - 09:37:17 WIB


INDEX BERITA

Statistik Website

Go Top
34.238.192.150 | 34.238.192.150 | Browser Tidak di ketahui - CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/) | System Operasi tidak di ketahui - System Operasi tidak di ketahui | 0.08836 sec
Call : 08561220108
Chat Whatsapp